Manusia hidup dengan berbagai macam pilihan yang diberikan kepadanya. Sama seperti ketika Adam dan Hawa pertama kali digoda untuk mencicipi buah yang terlarang. Pilihan ada di tangan manusia untuk mencoba buah itu atau mematuhi laranganNya.

Pilihan antara yang benar dan salah terasa lebih mudah untuk diambil dibandingkan dengan pilihan-pilihan lainnya yang tidak berdasarkan benar atau salah. Setiap pilihan memiliki resikonya sendiri, siapkah kita menanggung resiko setiap pilihan?

Menjadi jomblo atau punya pasangan juga sebuah pilihan. Apalagi kalau istilah pasangan ini sudah serius kearah pasangan seumur hidup alias menikah, jangan sampai pilihan yang diambil sekedar karena tidak kuat mendengar celotehan riuh rendah di sekitar kita.

Dengan kesiapan mental menghadapi semua konsekuensi dari sebuah pilihan maka pada saat yang sulit kita akan lebih kuat untuk menghadapi masalah. Pilihan kehidupan merupakan suatu keputusan yang datang bersama dengan resiko yang dimilikinya.

Kehidupan melajang memberikan saya kesempatan untuk mengisi hari dengan kegiatan yang saya senangi. Ketika memutuskan untuk menikah, sebenarnya kegiatan ini tidak berhenti karena sebelum menikah sudah ada kesepakatan bersama untuk tidak saling mengekang kesenangan pribadi. Tetapi kehadiran anak-anak menjadi sebuah rem yang secara tidak langsung mengikat langkah kebebasan saya. Kehadiran mereka menjadi sebuah tanggung jawab baru bagi saya dan suami. Kebebasan ekonomi juga secara tidak langsung tergeser dengan tuntutan kebutuhan-kebutuhan mereka.

Beruntung saya hidup di Indonesia dimana keluarga adalah bagian dari keluarga besar. Selalu saja ada adik atau sepupu yang melajang yang ikut menyumbang hadiah-hadiah untuk anak saya. Hal ini akan terasa sekali ketika yang melajang ini mulai berkeluarga dan memiliki anak juga, maka kado-kado di luar ulang tahun ikut menghilang. Tapi kehadiran keluarga besar juga bisa menjadi batu sandungan ketika mereka ikut turut campur menentukan pilihan-pilihan kita. Sekali lagi selalu ada yang positif dan ada yang negatif untuk setiap pilihan.

Pilihan menjadi ibu rumah tangga penuh atau menjadi ibu yang bekerja juga memiliki konsekuensi tersendiri. Menjadi ibu rumah tangga penuh berarti lebih dekat dengan perkembangan anak, tetapi menjadi ibu yang bekerja juga bisa berarti memiliki kemampuan untuk memaksimalkan perkembangan anak karena adanya dua sumber pendapatan. Sebagai lajang tentunya kegiatan yang bersifat melayani lebih mudah saya lakukan, waktu dan uang adalah milik saya pribadi. Sebagai seorang istri dan ibu melayani di luar rumah menjadi sedikit rumit. Berhitung antara pembagian waktu dan juga dengan pengeluaran biaya yang dibutuhkan dengan kebutuhan waktu dan biaya di dalam rumah sendiri.

Pilihan dalam berkarya di rumah juga memiliki berbagai tantangan. Sebagai orang ekstrovert yang senang bekerja di ruang luar dengan banyak orang maka pilihan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya merupakan pilihan yang sungguh sulit.

Dalam menulis artikel sebagai jurnalis warga di internet saya juga dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pilihan antara menulis setiap topik menarik yang melintas di pikiran saya, atau mengendapkannya dan mencoba mengolahnya kemudian. Ada saat saya membutuhkan momen itu, ada saat saya harus melepaskan momen itu untuk memperoleh pandangan yang lebih mendalam.

Ketika saya SMA dulu, ada komentar seorang teman dalam ajang diskusi kami yang tidak akan pernah saya lupakan: “Bicara memang gampang, tapi kamu tidak pernah merasakan hidup di desa dan kesusahannya!”. Sejak itu saya selalu mencoba menempatkan diri saya dalam posisi orang lain. Ketika saya menulis, saya juga bertanya-tanya apakah tulisan saya akan memperbaiki sesuatu? Atau hanya menjadi sekedar tulisan ideal yang bahkan saya pribadi tidak akan melaksanakannya? Ini juga menjadi semacam rem dalam menulis berbagai macam topik menarik yang belum saya kuasai dengan baik, atau ajakan yang akan susah saya terapkan secara pribadi.

Pilihan terhadap kepercayaan adalah sesuatu yang lebih mendalam dan hakiki. Sampai saat ini saya masih terus berusaha mendalami agama yang saya anut sejak masih bayi sambil memperkaya diri saya dengan ajaran-ajaran baik yang juga terdapat di dalam semua agama. Nilai ini yang ingin saya tularkan ke anak-anak saya supaya mereka juga memiliki landasan yang kuat sebelum memasuki rimba kehidupan yang sesungguhnya. Teringat pada tulisan seorang teman di blognya, saya pikir mungkin kita memang dengan sengaja menjadikan Tuhan sebagai bagian dari otorita kehidupan. Kita membutuhkanNya sebagai otorita superior yang membantu mengatur kehidupan kita. MembutuhkanNya untuk menerangi hati ketika harus membuat pilihan-pilihan. Padahal sesungguhnya hadirNya juga ada di dalam diri manusia, jadi memilih untuk tidak mempercayaiNya merupakan penyangkalan terhadap kehadiran manusia sendiri.

Semua pilihan ada di tangan manusia, tapi segala konsekuensinya juga menjadi resiko manusia itu sendiri. Karena itu saya ingin agar anak saya mengerti benar semua resiko atas pilihan-pilihannya. Ketika mereka tidak mau belajar maka mereka akan tertinggal dari teman-temannya (atau nilainya menjadi jelek). Ketika ngebut naik sepeda dan patah tulang tangan maka dia harus menanggung beban gips selama tiga bulan. Banyak konsekuensi dari pengalaman seorang anak yang menjadi pembelajarannya seumur hidup. Ini mungkin sama dengan ajaran Maria Montessori, dari pengalaman anak belajar. Tetapi saya juga ingin anak saya bisa bermimpi dan berkreasi seperti yang diungkapkan oleh Freud. Pada masa ini semua yang instan seperti game menggantikan imajinasi yang bisa berbuah kreativitas. Ketika kardus bekas menjadi mobil-mobilan sudah terganti dengan mobil-mobilan plastik yang punya batere dan sungguh-sungguh bisa berjalan maka kreativitas dan imajinasi bisa jadi tersumbat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s