Pendahuluan

 

Bio teknologi adalah penerapan teknologi yang didasarkan pada system kehidupan untuk mengembangkan proses dalam produk komersial. Atau merupakan pendaya gunaan system hayati untuk memproduksi barang dan jasa secara teknologi yang menguntungkan yang diarahkan untuk kesejahteraan manusia.

Rekayasa teknologi pertanian mencakup tentang : pratanam, rekayasa genetik, rekayasa teknologi budidaya, dan rekayasa teknologi pasca panen dan pengolahan produk hasil pertanian.

1). Rekayasa teknologi pratanam

Fase pra tanam: 1. Syarat Tumbuh  2. Pola Tanam 3. Penyiapan Lahan 4. Pemilihan Bibit

2). RekayasA Genetika’

Rekayasa Genetika adalah teknik yang dilakukan manusia mentransfer (memindahkan )gen (DNA) yang dianggap menguntungkan dari satu organism kepada susunan gen (DNA) dari organism lain.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam rekayasa genetika genetika secara sederhan urutannya sebagai berikut :
1. Mengindetifikasikan gen dan mengisolasi gen yang diinginkan.
2. Membuat DNA/AND salinan dari ARN Duta.
3. Pemasangan cDNA pada cincin plasmid
4. Penyisipan DNA rekombinan kedalam tubuh/sel bakteri.
5. Membuat klon bakteri yang mengandung DNA rekombinan
6. Pemanenan produk.
Manfaat Rekayasa Genetika
a. Meningkatnya derajat kesehatan manusia, dengan diproduksinya berbagai hormone manusia seperti insulin dan hormone pertumbuhan.
b. Tresedianya bahan makanan yang lebih melimpah.
c. Tersedianya sumber energy yang terbaharui.
d. Proses industry yang lebih murah.
e. Berkurangnya polusi.

Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) dalam arti paling luas adalah penerapan genetika untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan hewan atau tanaman melalui seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Demikian pula penerapan mutasi buatan tanpa target dapat pula dimasukkan. Walaupun demikian, masyarakat ilmiah sekarang lebih bersepakat dengan batasan yang lebih sempit, yaitu penerapan teknik-teknik biologi molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kemanfaatan tertentu.

Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan. Bidang kedokteran dan farmasi paling banyak berinvestasi di bidang yang relatif baru ini. Sementara itu bidang lain, seperti ilmu pangan, kedokteran hewan, pertanian (termasuk peternakan dan perikanan), serta teknik lingkungan juga telah melibatkan ilmu ini untuk mengembangkan bidang masing-masing.

3). Rekayasa teknologi budidaya

Teknik budidaya tanaman terutama tanaman padi telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sejumlah sistem budidaya diterapkan untuk padi.

  • Budidaya padi sawah (Ing. paddy atau paddy field), diduga dimulai dari daerah lembah Sungai Yangtse di Tiongkok.
  • Budidaya padi lahan kering, dikenal manusia lebih dahulu daripada budidaya padi sawah.
  • Budidaya padi lahan rawa, dilakukan di beberapa tempat di Pulau Kalimantan.
  • Budidaya gogo rancah atau disingkat gora, yang merupakan modifikasi dari budidaya lahan kering. Sistem ini sukses diterapkan di Pulau Lombok, yang hanya memiliki musim hujan singkat.

Setiap sistem budidaya memerlukan kultivar yang adaptif untuk masing-masing sistem. Kelompok kultivar padi yang cocok untuk lahan kering dikenal dengan nama padi gogo.

Secara ringkas, bercocok tanam padi mencakup persemaian, pemindahan atau penanaman, pemeliharaan (termasuk pengairan, penyiangan, perlindungan tanaman, serta pemupukan), dan panen. Aspek lain yang penting namun bukan termasuk dalam rangkaian bercocok tanam padi adalah pemilihan kultivar, pemrosesan biji dan penyimpanan biji.

d). Rekayasa teknologi pasca panen

Dalam pertanian, panen adalah kegiatan mengumpulkan hasil usaha tani dari lahan budidaya. Istilah ini paling umum dipakai dalam kegiatan bercocok tanam dan menandai berakhirnya kegiatan di lahan. Namun demikian, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, karena dapat dipakai pula dalam budidaya ikan atau berbagai jenis objek usaha tani lainnya, seperti jamur, udang, atau alga/gulma laut.

Secara kultural, panen dalam masyarakat agraris sering menjadi alasan untuk mengadakan festival dan perayaan lain.

Panen pada masa kini dapat dilakukan dengan mesin pemanen seperti combine harvester, tetapi dalam budidaya yang masih tradisional atau setengah trandisional orang masih menggunakan sabit atau bahkan ani-ani. Alat pemanen lain yang tidak dikenal di Indonesia adalah scythe dan reaper. Panen tanpa mesin merupakan salah satu pekerjaan dalam budidaya yang paling memakan banyak tenaga kerja. Kegiatan ini dapat langsung diikuti dengan proses pascapanen atau pengeringan terlebih dahulu.

 

1. Panen

Ø  Tanaman yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik: hortikutura

Ø  Hortikutura: sayuran, buah, dan tanaman hias

Ø  Kualitas produk hortikultura: ketepatan waktu panen

Ø  Waktu panen yang tepat: saat masak fisiologis

Ø  Kualitas produk hortikultura setelah dipanen: tidak bisa dinaikkan, hanya bisa dipertahankan

Ø  Pada saat dipanen: kualitasnya harus maksimal, dengan penanganan yang baik, dapat dipertahankan untuk waktu yang lama

Ø  Indikator/penanda yang dapat digunakan untuk penentuan waktu panen yang tepat: kenampakan visual, indikator fisik, analisis kimiawi, indikator fisiologis, komputasi

a). Indikator Visual

Ø  Paling banyak dipergunakan, baik pada komoditas buah maupun sayuran

Ø  Dasarnya: perubahan warna, ukuran, dan lain-lain

Ø  Sifatnya sangat subyektif, keterbatasan dari indra penglihatan manusia

Ø  Sering salah: pemanenan dilakukan terlalu muda/awal atau terlalu tua/sudah lewat panen

Ø  Indikator Fisik

Ø  Sering digunakan, khususnya pada beberapa komoditas buah

Ø  Indikatornya: mudah tidaknya buah dilepaskan dari tangkai buah, uji ketegaran buah (penetrometer)

Ø  Uji ketegaran buah lebih obyektif, karena dapat dikuantitatifkan

Ø  Prinsip: buah ditusuk dengan suatu alat, besarnya tekanan yang diperlukan untuk menusuk buah menunjukkan ketegaran buah

Ø  Semakin besar tekanan yang diperlukan: buah semakin tegar, proses pengisian buah sudah maksimal/masak fisiologis dan siap dipanen

b). Analisis Kimia

Ø  Terbatas pada perusahaan besar (relatif mahal), lebih banyak dipergunakan pada komoditas buah

Ø  Indikator pengamatan: kandungan zat padat terlarut, kandungan asam, kandungan pati, kandungan gula

Ø  Metode analisis kimia lebih obyektif dari pada visual, karena terukur

Ø  Dasarnya: terjadinya perubahan biokimia selama proses pemasakan buah

Ø  Perubahan yang sering terjadi: pati menjadi gula, menurunnya kadar asam, meningkatnya zat padat terlarut

c). Komputasi

Ø  Yang dihitung: jumlah dari suhu rata-rata harian selama satu siklus hidup tanaman (derajad hari) mulai dari penanaman sampai masak fisiologis

Ø  Dasarnya: adanya korelasi positif antara suhu lingkungan dengan pertumbuhan tanaman

Ø  Dapat diterapkan baik pada komoditas buah maupun sayuran

d). Indikator Fisiologis

Ø  Indikator utama: laju respirasi

Ø  Sangat baik diterapkan pada komoditas yang bersifat klimakterik (kurang cocok pada komoditas yang non klimakterik)

Ø  Saat komoditas mencapai masak fisiologis, respirasinya mencapai klimakterik (paling tinggi)

Ø  Berarti: kalau laju respirasi suatu komoditas sudah mencapai klimakterik, siap dipanen

Ø  Ketepatan saat panen: sangat menentukan kualitas produk

Ø  Produk yang dipanen tidak tepat waktu: kuantitas dan kualitasnya menurun

Ø  Pemanenan terlalu muda/awal: menurunkan kuantitas hasil, pada banyak komoditas buah menyebabkan proses pematangan tidak sempurna sehingga kadar asam justru meningkat (buah terasa masam)

Ø  Pemanenan terlalu tua/lewat panen: kualitas menurun dengan cepat saat disimpan, rentan terhadap pembusukkan, pada beberapa komoditas sayuran menyebabkan kandungan serat kasarnya meningkat, tidak renyah lagi

Ø  Pemanenan: secara manual menggunakan tangan maupun mekanisasi

Ø  Cara panen yang dipilih ditentukan oleh: ketersediaan tenaga kerja, luasan areal pertanaman

Ø  Yang perlu diperhatikan saat panen: sedapat mungkin menghindarkan komoditas dari kerusakan fisik (seperti memar, luka, lecet, dll)

Ø  Adanya kerusakan fisik pada komoditas: memacu pembusukkan, memacu transpirasi dan respirasi (cepat layu dan menurun kualitasnya), menginduksi serangan hama/penyakit pasca panen

2. Pasca Panen

Ø  Setelah komoditas dipanen, perlu penanganan pasca panen yang tepat supaya penurunan kualitas dapat dihambat

Ø  Komoditas hortikultura kebanyakan  dikonsumsi dalam keadaan segar sehingga perlu penanganan pasca panen yang ekstra supaya tetap segar

Ø  Yang dapat dilakukan setelah pemanenan hanyalah mempertahankan kualitas dalam waktu selama mungkin bukan meningkatkan kualitas

Ø  Perlakuan utama dalam pasca panen: tujuannya menghambat laju transpirasi dan respirasi dari komoditas

Ø  Komoditas hortikultura, setelah dipanen masih tetap merupakan jaringan hidup

Ø  Jaringan hidup: menjalankan aktifitas fisiologis yaitu transpirasi dan respirasi

Ø  Transpirasi: menyebabkan hilangnya air dari komoditas, berpengaruh terhadap kesegaran/kerenyahan komoditas

Ø  Respirasi: menyebabkan berkurangnya cadangan makanan (dalam bentuk pati, gula, dll) dalam komoditas, mengurangi rasa dari komoditas (terasa hambar), memacu senescence komoditas, memacu pembusukkan

Ø  Transpirasi dan respirasi merupakan penyebab utama kerusakan pada komoditas hortikultura

3. Penangana pasca panen

Ø  Pendinginan pendahuluan: menurunkan suhu komoditas menjadi lebih rendah dari suhu di lapangan, sehingga suhu komoditas mendekati suhu ruang simpan

Ø  Pencucian: membersihkan komoditas dari kotoran yang melekat, menghilankan bibit-bibit penyakit yang masih melekat

Ø  Pengeringan: menghilangkan air yang berlebihan pada permukaan komoditas

Ø  Pelapisan dengan lilin: khususnya untuk komoditas buah, tujuannya: mengurangi suasana aerobik dalam buah, memberikan perlindungan yang diperlukan terhadap organisme pembusuk

Ø  Sortasi mutu/grading menurut ukuran

Pengepakan/pengemasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s